Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Juli 2010

Bagaimana menjadi wanita yang dirindukan surga?

Ini oleh-oleh dari pengajian ibu-ibu muslimah PWP dalam perayaan Isro' mi'roj 12 Juli 2010, mengambil tema "berhijrah menuju kemenangan"

Bagaimana menjadi wanita yang dirindukan surga?
1. Dirikanlah sholat wajib dan sunah
2. Berpuasalah wajib dan sunah
3. Taat pada suami
4. Menjaga kehormatan keluar

Yang dipetik dari ceramah isro' mi'raj ini adalah bagaimana seorang istri berhijrah untuk menjadi wanita penghuni syurga. Tentang sabda Rosul "Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk menyembah yang lain, aku akan memerintahkan istri untuk menyembah suaminya" dapat diartikan seorang istri wajib taat kepada suaminya selama suaminya tidak memerintahkan berbuat kemaksiatan.

Dalam kehidupan, banyak istri tidak taat & tidak mau menuruti perintah suami karena kelemahan suami dan melupakan kebaikannya.

Dalam perjalanan mi'rojnya, Rosul diperlihatkan neraka yang mayoritas penghuninya adalah wanita. Siapa mereka? mereka adalah wanita yang tidak mensyukuri pemberian suami, kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikannya seolah-olah suami belum pernah berbuat kebaikan.

Mengeluhkan kelemahan suaminya yang tidak bisa memberikan apa yang dia minta, mengeluhkan hasil keringat suaminya, tidak mau bersyukur atas pemberian suami, melupakan kebaikan suami, membangkang, meremehkan karena merasa sebagai pencari nafkah. Ini banyak dilakukan wanita.

Seorang suami tetaplah seorang manusia yang punya kelemahan tapi juga punya kelebihan. Hendaknya jika seorang istri melihat dari suami sesuatu yang tidak disukainya atau tidak pantas dilakukan maka ia janganlah mengkufuri dan melupakan seluruh kebaikannya.

Sungguh bila seorang istri tidak mau bersyukur kepada suami sementara suami adalah orang yang banyak dan sering berbuat kebaikan kepadanya, maka iapun tidak akan pandai bersyukur kepada Allah yang terus mencurahkan kenikmatan.

♥ ♥ (tambahan dari YK)

bagi seorang wanita yg sudah bersuami dan suaminya masih hidup, dia berkewajiban bakti kepada suami bahkan kebatiannya kepada orang tuanya harus dinomer duakan dalam arti jika orang tua dan suami mempunyai maksud yang berbeda tetapi semuanya baik dan benar, hendaknya didahulukan apa yang dimaksud suami.

tetapi si suami harus tahu, jika kebaktian ... See Moreistrinya kepada orang tuanya telah diambilnya, menjadi kewajiban suami untuk menggantikan kebaktian istrinya kepada orang tuanya itu, bukan hanya mau menang sendiri dengan tidak mau menggantikan kebaktian istrinya kepada orang tuanya.

kemudian, untuk menjadi suami yang layak " DISEMBAH ( ditaati ) " hendaknya suami itu :

1. Bertanggung jawab sepenuhnya kepada kluarga sesuai kemampuannya, bisa jadi suri tauladan, bisa memimpin, bisa memberi petunjuk, bisa mengayomi juga bisa dan mau membantu kerepotan istrinya, bukan hantya menuntut haknya saja.

2. harus mau mengalah tidak mau memberatkan istrinya.

dikisahkan, suatu larut malam beliau Rasulullah saw. baru pulang dimana istrinya sedang tidur nyenyak, maka beliau tidak mau mengangu tidurnya sehingga beliau rela tidur diberanda rumahnya.

3. Harus memperlihatkan kasih sayangnya pada istri yang istiolahnya romantis. yang demikian dikisahkan, pada waktu waktu tertentu beliau memanggil istrinya ( 'Aisyah ra. ) dengan khumairo' : wahai KHUMAIRO' yang artinya wahai YANG KEMERAH MERAHAN PIPINYA .....

dengan demikian Insya Allah suami amat sangat pantas mendapatkan kebaktian yang lengkap serta benar benar di taati, dan itu sama halnya membukakan salah satu jalan kepada istrinya untuk menjadi istri yang solehah.

Senin, 05 Oktober 2009

materi kultum subuh

materi kultum untuk suami

Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Jamaah sholat subuh yang dimuliakan Allah.

Puji syukur sepatutnya kita panjatkan hanya kepada Allah SWT, karena hanya karunia Allahlah maka pada pagi ini kita semua masih diberikan kesempatan untuk menikmati kehidupan yang fana ini. Solawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya sampai akhir Zaman.
Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa beberapa hari ini kita telah dikejutkan dengan peristiwa musibah yang melanda saudara kita di Padang-Sumatra Barat, dengan sedikit digetarkannya bumi Allah ini dan luluh lantaklah yang ada diatasnya.
Begitu serempaknya berita, seluruh saluran Televisi dari pagi hingga petang, berlomba-lomba menayangkan gambar-gambar dan berusaha menyusun kalimat yang memilukan. Bagaimana tidak? Gedung-gedung bertingkat yang tadinya nampak gagah dan kokoh telah hancur, tiang-tiangnya yang kuat ternyata tidak mampu menyangganya. Jalan-jalan terputus seolah bumi terbelah. Ratusan rumah telah rata dengan tanah, harta benda terkubur didalamnya dan bahkan sebuah desa telah tertimbun akibat longsornya sebuah bukit, diyakini pula bahwa dibawah longsoran itu, masih tertimbun ratusan tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi. Mudah-mudahan mereka syahid. Amin. Seorang ibu kehilangan suami dan anaknya, seorang anak kehilangan ibunya dan masih banyak lagi potret kesedihan. Begitu mirisnya pemandangan itu.
Padahal belum lama ini, musibah yang sama juga dialami saudara kita di Tasikmalaya. Tidak kalah pedihnya dan hancurnya hati mereka. Sampai saat ini belum pulih kondisi mereka. Rumah-rumah dan bangunan yang hancur belum terbangun lagi, harta benda yang rusak seperti mobil dan perabotan belum tergantikan, kesedihan mereka karena kehilangan sanak keluarga juga belum terobati dan masih banyak kepedihan-kepedihan yang belun tergantikan.
Namun demikian, seberapa berat kepedihan yang mereka tanggung saat ini, kita harus ingat bahwa ada peristiwa yang lebih besar bahkan maha dasyat, yang kelak akan terjadi dan pasti terjadi yaitu ketika bumi diguncangkan. Isi perut bumi akan dimuntahkan. Allah SWT, telah mengingatkan semua itu dalam surat Al Zalzalah ayat 1-3 :
Yang artinya:
1- Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat),2- dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya,3- dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”,

Jamaah subuh yang dirahmati Allah.

Apa yang terjadi di Tasikmalaya dan di Padang-Sumatra Barat, hanyalah contoh kecil dari kejadian serupa yang lebih dahsyat yang akan terjadi kelak, entah kapan terjadinya tapi pasti terjadi. Allah SWT merahasiakan waktunya.
Musibah yang terjadi adalah sebagai contoh dan peringatan dari Allah, agar kita selalu ingat bahwa apa yang kita miliki, kita banggakan hanyalah sementara dan setiap saat Allah bisa saja mengambilnya dalam sekejap mata, bahkan kita juga dalam genggamannya dan akan kembali padaNya. Untuk itu, setiap saat kita harus selalu ingat dan bersyukur akan karunia yang telah Allah berikan kepada kita. Namun pada kenyataannya, sedikit sekali dari kita yang mau memperhatikan peringatan tersebut dengan selalu ingat dan kembali pada-Nya serta bersyukur atas semua karunia yang telah diberikan-Nya.
Ketika diberikan sedikit kenikmatan dan kesenangan, kita menjadi sombong, berbangga diri dan lupa bersyukur pada Allah. Kita lupa bahwa apa yang diterimanya ini sebenarnya hanyalah ujian dari Allah. Betapa sibuknya kita menumpuk harta, bergelut dengan pekerjaan, bersenang senang serta memperturutkan hawa nafsu sehingga tak ada waktu lagi untuk mengingat Allah, waktunya telah dihabiskan hanya untuk urusan dunia. Kitapun lupa bahwa kita juga harus berbagi kenikmatan dengan orang lain.
Lalu ketika Allah mendatangkan ujian berupa bencana dan berbagai kesulitan, kita baru ingat pada Allah, ada diantara kita yang berkeluh kesah, bahkan ada pula yang mengumpat kesana kemari. Hal ini telah disinyalir oleh Allah dalam surat Al Fajr 15-16
Yang artinya:
15- Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.
16- Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (Al Fajr 15-16)
Seorang mukmin harus yakin dengan sepenuh hati bahwa ketika ia sedang ditimpa kesulitan atau musibah, ini merupakan ujian dari Allah, dan seorang mukmin harus yakin bahwa Allah sedang berniat mengangkat derajadnya melalui ujian itu.

Jamaah subuh yang dikaruniai Allah.

Keterkejutan kita ketika mendengarkan berita musibah yang menimpa saudara-saudara kita, apakah hanya sampai pada terkejut saja? Apakah kita hanya akan duduk diam menikmati siaran berita saudara-saudara kita di televisi sambil tangan kita memegang remote mencari-cari berita dari satu saluran ke saluran lain yang menayangkan kepedihan saudara kita yang tertimpa musibah. Ataukah kita akan segera tergerak hati dan melakukan gerakan sosial dengan mengeluarkan sebagian harta kita untuk ikut membantu meringankan penderitaan mereka.
Inilah ujian bagi kita sebagai saudara mukmin. Kita korbankan sebagian harta kita untuk saudara kita yang terkena musibah. Allah akan mengangkat derajad kita melalui musibah tersebut.
Betapa hancurnya meraka, mereka kehilangan keluarga, rumah dan harta benda.

Jamaah subuh yang dikaruniai Allah.

Kalau televisi berlomba-lomba menayangkan gambar-gambar yang memilukan, marilah kita, sebagai seorang mukmin berlomba-lomba mengolah ladang-ladang amal kita dengan berbagi rizqi untuk membantu saudara-saudara kita yang kesusahan. Seberapapun harta yang kita keluarkan akan sangat berarti untuk saudara kita. Kalau perlu kita paksakan diri untuk membantu mereka untuk berbuat lebih banyak, beramal lebih banyak. Karena saudara-saudara kita sangat butuh bantuan.

Jamaah subuh yang dirahmati Allah.

Sebagai kesimpulan, kita harus bersyukur dan berbakti pada Allah atas semua nikmat yang telah kita terima, bukan membuang buang waktu untuk bersenang senang dan memperturutkan hawa nafsu. Berbagai bencana yang terjadi di dunia ini adalah peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada Allah. Kalau Allah mau, semua kenikmatan itu dapat lenyap dalam sekejap mata. Gempa bumi, angin topan, badai, gelombang tsunami, tanah longsor, banjir bandang, dalam sekejap mata dapat melenyapkan semua kenikmatan yang kita miliki selama ini
Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dicintai dan mencintai Allah, Tidak silap mata dengan harta yang kita miliki, dan mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diberi kepekaan sosial yang tinggi. Amin Allahumma Amin.
Demikian kultum yang bisa saya sampaikan. Billahi taufik wal hidayah.
Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Selasa, 18 Agustus 2009

Ramadhan Masa Kecil

Setiap ramadhan tiba, pasti ingat masa-masa kecil dulu. Satu hari sebelum ramadhan biasanya ada namanya "Padusan". Kalau sekarang mungkin yang dimaksud membersihkan diri dengan mandi keramas, seperti mandi besar. Cuma yang terpikir waktu kecil dulu "Padusan" dengan pergi ke sumber mata air untuk mandi ataupun berenang. Karena waktu itu memang sumber mata air selalu ramai menjelang ramadhan. masih ingat namanya "cokro tulung". Entah sekarang apa masih ramai kalau menjelang ramadhan. Apa tradisi "Padusan" juga masih ada? Kemudian mulai menjalankan shalat tarawih dihari pertama dimasjid yang letaknya masih satu halaman rumah. Masjid biasanya selalu penuh dengan jamaahnya. Dari yang tua sampai anak-anak, perempuan dan laki-laki. Sampai-sampai pelataran rumah juga dipadati oleh jamaah laki-laki. Imam masjidnya selalu ganti, mungkin dijadwal ya waktu itu. Yang berkesan dari setiap shalat tarawih ini, imamnya selalu membaca surat-surat dari Juzz 'Amma. Tidak hanya surat-surat pendeknya, tapi juga surat-surat panjang dari Juzz 'Amma. Sampai-sampai setiap imam membaca, kita jadi mulai hafal. Kemudian setelah selesai menjalankan sholat tarawih, biasanya imam memimpin dzikir dan memimpin do'a dilanjutkan membaca niat puasa ramadhan bersama-sama. Masih ingat bacaan niatnya waktu itu "Nawaitu souma ghodin an 'adaai fardhi syahri ramadhani hadihis sanati fardhol lillahi ta'ala" lalu dilanjutkan dalam bahasa jawanya "niat ingsun poso ing dino sesok saking anekani ferdhune wulan romadhon ing tahun iki" ini biasa dibaca bersama-sama dan dilagukan. Anak-anak yang paling suka dan melantunkannya keras-keras. Kemudian dilanjutkan ceramah agama yang bahasanya mudah dipahami baik yang tua, muda maupun anak-anak. Jadi anak-anak senang mendengarkan. Kalau ceramah-ceramah agama yang sekarang ini bahasanya njlimet. Kalau yang tidak mengerti malah mlongo alias mendengarkan tapi nggak mudeng. Padahal sebenarnya shalat tarawih yang biasanya banyak jamaahnya ini adalah kesempatan yang baik untuk menarik jamaah supaya tetap cinta dan datang kemasjid. Lanjut kecerita masa kecil, setelah ceramah biasanya dibagi "Jaburan" atau dibagi kue. Meski kadang kue tidak kemakan setelah mendapatkan, tapi senangnya bukan main waktu dibagi, apalagi menunggu-nunggu kue apa yang dibagikan hari ini? Yang menarik lagi, sampai dihari akhir puasa, masjid masih penuh. Anak-anak juga masih banyak. Mungkin juga karena anak-anak sekolah mendapat tugas dari guru agama untuk mendapatkan tanda tangan dari imam dan penceramahnya. Pendidikan yang baik sebenarnya. Karena anak dituntut untuk mau mendengarkan ceramah dan menulis ringkasan ceramahnya. Waktu kutanyakan keanakku yang masih SD, apa ada tugas dari sekolah untuk ramadhan ini seperti mendapatkan tandatangan dari imam ataupun penceramahnya. Anakku bilang tidak ada. Yah, beda jaman, beda cara mengajarnya. Tapi apa disekolah lain masih berlaku ya tugas dari guru agama untuk mengisi kegiatan ramadhan?

Senin, 25 Mei 2009

Betapa Bahagianya

Ketika seorang kerabat mengabarkan berita kematian si fulan, spontan terucap kalimat Innalillahi wa inna Ilaihi rojiun, meski kadang ada yang tidak faham apa artinya, malah kadang ada yang hanya mengucapkan kalimat awalnya saja dan dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan kapan kejadiannya? dimana? kenapa?
Ajal memang datangnya selalu tak terduga, kapanpun datang, pantas saja untuk diberitakan. Tidak peduli dini hari, pagi, menjelang siang, tengah hari, sore maupun malam. Siapapun juga pantas menyandangnya, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, pengemis, pengusaha, raja maupun presiden. Dimanapun juga pantas kejadiannya, mau di rumah, di jalan, di kolong jembatan, di sungai, di kantor, di dalam mobil di medan pertempuran, maupun di rumah sakit.
Suatu waktu Allah pasti akan mengirimkan malaikat maut-Nya, Izroil sang pencabut nyawa untuk menjemput dengan tiada ampun dan akan membawa ruh kita kehadapan-Nya. Saat yang tepat bagi Allah belum tentu menjadi saat yang tepat bagi kita. Mungkin kita masih merasa kuat, masih merasa sehat, masih semangat-semangatnya bekerja, ternyata akan mendahului bapak ibu kita yang sudah tua, yang sudah tak bertenaga, yang mungkin juga sudah sakit-sakitan. Atau mungkin anak-anak kita yang masih sangat muda dengan cita-citanya yang masih jauh diangan, yang sedang mekar-mekarnya, yang sedang semangat-semangatnya belajar, ternyata akan mendahului kita. Rahasia Allah mengenai datangnya ajal tersimpan sempurna, tak akan bocor. Kita tunggu gilirannya siapa yang akan lebih dulu dipanggil.
Lalu apa yang bisa kita harapkan ketika kita sudah tiada? Yang kita tahu bahwa waktu itu kita sudah tidak bisa beribadah lagi, kita sudah tidak bisa berbuat kebaikan lagi, kita sudah tidak bisa beramal lagi. Amalan-amalan kita sudah terhenti pencatatannya. Kita hanya bisa berharap dari pahala-pahala atas amalan-amalan kita yang kita tanam yaitu ilmu yang bermanfaat yang kita sumbangkan selama kita mengenyam dunia. Kita hanya bisa mengharapkan dari amal jariah, harta, pikiran dan tenaga kita yang kita sumbangkan dengan ikhlas dan mudah-mudahan masih dimanfaatkan umat. Kita hanya bisa mengharapkan doa-doa dari anak-anak saleh kita.
Ikhlas adalah kunci dari ibadah dan amal kita. Ketika kita ada kesempatan membagi ilmu dengan teman, kalau kita ikhlas mengajarinya tanpa ada rasa riak atau sombong, inilah ladang amal kita yang akan kita petik ketika kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kalau kita hanya bisa membuat kolam ikan, kita bisa berbagi ilmu, kita bisa ajarkan bagaimana membuat kolam yang baik, tidak bocor, bening terus tanpa harus sering menguras airnya. Insya Allah ketika teman masih memanfaatkan ilmu yang kita berikan, pahalanya akan terus mengalir. Kalau kita hanya bisa berkebun, lalu seorang teman datang minta diajari, mari kita ajari dengan ikhlas. Insya Allah ketika teman memanfaatkan lahan garapannya, ganjarannya akan terus mengalir. Kalau kita hanya bisa memasak dan teman kita minta diajari, mari kita ajari dengan ikhlas. Selama teman kita memakai cara kita, kita akan terus diberikan pahala-pahala.Jadi untuk apa kita takut berbagi ilmu? Kalau gantinya adalah pahala-pahala yang terus mengalir ketika kita sudah tidak bisa apa-apa lagi. Lihatlah para guru SD, SMP, SMU, para dosen yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan kepada beribu-ribu siswa. Beliau tidak merasa tersaingi, Beliau tidak merasa terancam posisinya sebagai guru.
Ikhlas adalah kunci dari ibadah dan amal kita. Ketika kita diberi limpahan materi, badan yang kuat, apa yang bisa kita sumbangkan pada agama kita. Ada seseorang mengetuk pintu rumah kita dipagi hari, disiang hari atau dimalam hari. Ketika kita bukakan pintu dan ternyata yang datang orang yang minta sumbangan untuk pembangunan masjid, untuk menyantuni anak yatim, untuk menyantuni kaum duafa. Apa yang kita lakukan?Ada yang dengan ikhlas memberi sumbangan meskipun tidak banyak, ada yang memberi sumbangan tapi tidak ikhlas, ada yang tidak memberi, ada yang mengusir, malah ada yang curiga kalau yang datang penipu, dokumen yang dibawanya pasti palsu. Apa kita benar tahu kalau yang datang itu penipu? Apa kita benar yakin kalau yang datang itu dokumennya palsu?Kalau kita tidak mau memberi ya sudah tidak usah berprasangka yang tidak-tidak. Kalau kita mau memberi walau sedikit tapi dengan ikhlas, itu akan lebih baik nilainya, kita akan diberi pahala ketika memberi bantuan. Kalau ternyata mereka memang menipu tapi kita tidak tahu, itu adalah urusan dia dengan Allah, dia yang akan menanggung dosanya. Tapi kalau ternyata apa yang disampaikannya benar dan kita sudah menyumbang, inilah lahan yang tergarap yang akan kita petik hasilnya ketika kita sudah tidak bisa apa-apa.
Ikhlas adalah kunci dari ibadah dan amal kita. Ketika kita diberi umur panjang dan diberi amanat dengan dihadirkannya seorang anak dari rahim para ibu. Apa yang bisa kita ajarkan pada mereka sebagai bekal hidup di dunia sampai di akherat dengan selamat. Mari kita ajarkan anak-anak kita untuk selalu mengagungkan Allah, Mencintai nabi dan rosulnya, mencintai agamanya. Mari kita ajarkan pada mereka untuk selalu ingin berbuat kebaikan bagi agamanya, kita didik anak kita untuk bisa berdoa dengan baik, berdoa untuk dirinya, untuk kita, untuk keturunannya kelak dan untuk agamanya. Betapa bahagianya memiliki anak-anak yang berpegang teguh pada keyakinan dan punya tujuan hidup berlandaskan iman pada Allah.
Kehidupan dunia itu, yang lahiriahnya begitu indah, begitu mempesona, begitu menggiurkan, begitu melenakan setiap insan, bahkan tak sedikit yang memujanya. Pernahkah terpikirkan seberapa banyak kehidupan dunia yang bisa dinikmati? Seberapa lama kehidupan dunia bisa kita tinggali?Ternyata tak semua orang bisa menikmati makanan yang enak-enak hanya karena alasan kesehatan. Seperti sate kambing, gulai kambing, soto makasar, rawon dan makanan yang judulnya berlemak. Adalah musuh yang punya penyakit darah tinggi, kolesterol, asam urat dan masih banyak lagi.
Ternyata tak semua orang bisa menikmati tempat hiburan yang katanya sangat menarik. Seperti pemandangan di dasar laut, puncak gunung, hamparan hutan bak permadani jika dilihat dari atas, hanya karena alasan takut tenggelam, takut ketinggian, takut binatang buas dan lain-lain.
**Jika dibandingkan dengan kehidupan akherat yang kekal, dunia memang tak ada apa-apanya. Kita boleh-boleh saja mencintai dunia, tapi jangan sampai melupakan kehidupan akherat. Bangunlah kehidupan akherat dengan membantu orang-orang yang tak mampu, membantu orang-orang yang berjuang di jalan Allah, membantu anak-anak menggapai akheratnya dengan selamat.


Jumat, 22 Mei 2009

yuuk... cari bekal !


Jika kita dihadapkan pada satu pertanyaan.
“Kalau kita sudah tiada, ingin dikenang sebagai apa?”

Mungkin dari kita akan ada yang menjawab seperti ini:
“Saya ingin dikenang sebagai ibu / bapak yang baik bagi anak-anak”
“Saya ingin dikenang sebagai istri / suami yang baik”
“Saya ingin dikenang sebagai anak yang berbakti”
“Saya ingin dikenang sebagai saudara yang baik”
“Saya ingin dikenang sebagai sahabat yang baik”
“Saya ingin dikenang sebagai teladan””Saya ingin dikenang karena karya-karya saya”
“Saya ingin dikenang kebaikan-kebaikan saya saja”

Sungguh suatu jawaban yang sangat mulia, cita-cita yang sangat luhur. Semua pasti menginginkannya. Tapi, ternyata tidak mudah menggapai atau mewujudkan cita-cita itu.

Apakah kita memang benar-benar sudah menjadi ibu / bapak yang baik bagi anak-anak?
Apakah kita memang benar-benar sudah menjadi istri / suami yang baik?
Apakah kita memang benar-benar sudah menjadi anak yang berbakti?
Apakah kita memang benar-benar sudah menjadi saudara yang baik?
Apakah kita memang benar-benar sudah menjadi sahabat yang baik?
Apakah kita memang benar-benar sudah menjadi orang yang berjasa? Sampai-sampai orang yang mengenal kita akan mengenang kebaikan-kebaikan kita.

Mari kita lihat lagi potret-potret dalam album kenangan kita, mari kita toleh lagi sejarah yang kita tulis.

Apakah kita sudah bertindak bijaksana ketika mendidik anak-anak, dan tidak melampiaskan emosi ketika sedang penat pikiran?

Apakah kita, ketika sedang tertidur lelap lalu ayah atau ibu minta bantuan dipijit atau dikerok, kita datangi mereka dengan lapang dada atau dengan cemberut?

Apakah kita, ketika teman dalam kesulitan, kita sudah memberikan jalan keluar dengan ikhlas?

Apakah kita sudah menorehkan suatu karya yang bermanfaaat bagi masyarakat banyak?

Mari kita berkaca diri.

Datangnya maut tak bisa diduga. Mungkin kita masih diberi kesempatan menghirup udara bebas ini bertahun-tahun lagi, sehingga kita masih bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat.

Tapi siapa yang akan menyangka kalau ternyata kedipan mata ini adalah kedipan mata yang terakhir, atau hembusan nafas ini adalah hembusan nafas yang terakhir. Kalau benar, kenangan apa yang kita tinggalkan saat ini?

Karena itu, secepatnya, sesegera mungkin, kita rubah diri kita menjadi lebih baik dari sekarang.